
Sebuah kelurahan yang memadukan keindahan alam agraris dengan keramahan warganya, mengakar kuat pada nilai-nilai tradisi Nusantara.



Saksi bisu peradaban Kerajaan Kadiri yang disakralkan warga Desa Kembangarum.
Saksi bisu peradaban Kerajaan Kadiri yang disakralkan warga Desa Kembangarum.
Jauh sebelum dikenal dengan namanya yang sekarang, desa ini awalnya bernama Desa Jaring. Kisah asal-usul Desa Jaring bermula dari masa lampau ketika wilayah ini masih berupa hutan lebat.
Tersebutlah seorang tokoh yang melakukan pembabatan hutan (babat alas) dan berhasil menangkap seorang buronan dari Kerajaan Kadiri bernama Pangeran Gendrayana. Penangkapan tersebut berhasil dilakukan berkat sebuah pusaka sakti yang berwujud jaring.
"Besok jika tempat saya roboh ini berubah menjadi desa, jadikan bernama Desa Brubuh. Sedangkan tempat saya terjerat jaring, jadikan desa bernama Desa Jaring."
Sumpah yang diucapkan oleh sang buronan saat terjerat inilah yang kemudian menjadi cikal bakal penamaan Desa Jaring.
Pada tahun 1103 Saka atau sekitar tahun 1181 Masehi, penduduk Desa Jaring diajak oleh panglima perang dari Desa Sarwajala untuk menghadap penguasa Kerajaan Kadiri. Pertemuan ini bertujuan untuk menyatakan bahwa penduduk Desa Jaring pernah berjasa dalam membantu menangkap buronan.
Atas hal ini, Raja Kadiri saat itu, Raja Sri Gandra, meresmikan wilayah ini secara sah sekaligus menganugerahkan sebuah prasasti batu—yang kini dikenal sebagai Prasasti Jaring sebagai tanda penghargaan.
Pada sekitar tahun 1900-an, desa ini secara resmi berganti nama menjadi Desa Kembangarum. Nama baru ini memiliki makna filosofis yang indah, di mana kata "Kembang" berarti bunga dan "Arum" memiliki arti harum.
Meski nama desa telah berubah, masyarakat Kembangarum tidak pernah melupakan akar sejarah mereka. Hingga saat ini, Prasasti Desa Jaring masih dirawat dengan baik dan sangat disakralkan oleh penduduk setempat.
Setiap kali desa mengadakan acara adat seperti Bersih Desa, warga akan menggelar acara slametan di area prasasti sebagai tradisi.
Lahan pertanian produktif mencapai 312 hektar yang ditanami padi, jagung, tebu, dan hortikultura. Sistem irigasi modern menjadikan desa ini lumbung pangan andalan Sutojayan.
Pengembangan usaha mikro melalui BUMDes yang bergerak di bidang simpan pinjam, pasar rakyat, dan sentra pengolahan hasil panen untuk kemandirian ekonomi desa.
Melayani dengan hati dan tanggung jawab.
Menanamkan budaya 3S (Senyum, Sapa, Salam).
Peduli menciptakan suasana kerja dengan penuh kekeluargaan.